Jumat, 05 Oktober 2012

CupLikaN BuKu "HabiTs" punya ustadz Felix Y. Sauw


Ada dua kemungkinan bagi visioner ; apakah dia gagal mewujudkan visinya dan sedikit dihina dan diolok, atau dia berhasil mewujudkannya dan banyak mendapatkan kemuliaan. Yang manapun yang terjadi, tetap saja dia akan dingat oleh orang lain. Namun hanya satu kemungkinan bagi seorang pragmatis, tak ada yang akan mengingat mereka!
Kutipan dari buku berjudul “Habits” karya Felix Y. Siauw halaman 142.

Takut tidak didengarkan, takut tidak disukai, takut ditolak = unreasonable fear. Itu merupakan ketakutan yang ada dalam bayangan kita saja. tak mewujud dalam kenyataan. Hal-130

“perbedaan antara impan dan khayalan adalah bahwa mengkhayal melibatkan kemalasan, dimana seseorang tidak berusaha ataupun berjuang (untuk yang dia inginkan). Impian akan mengharuskan seseorang berjuang, usaha, dan tawakal. Yang pertama ibarat berharap tanah akan membajak dan menanam sendiri untuknya. Sedangkan yang kedua benar-benar membajak , menanam dan berharap tanaman tumbuh” (madaarij as-salikin) hal-127

Action adalah pertanda kesungguhan, ia pembeda antara impian dan khayalan. Juga pembeda antara orang munafik dan yang beriman. Hal-127

Alloh mustahil mewajibkan hal yang mustahil bagi kita. Hal-120

Kendalikan habits anda, dan insya alloh anda akan mengendalikan kehidupan anda. Kendalikan habits atau habits yang akan mengendalikan hidup kita. Hal-123

No pain no gain. With pain there’s gain. Hal-117

Ayah ibu habits itu practice dan repetition. Hal-118

Orang yang ‘tidak cerdas’ tidak mau menghabiskan uang untuk membaca buku, karena makanan lebih baik bagi mereka, mereka anggap makanan lebih memberikan efek nyata. Karena tidak membeli dan membaca buku maka pengetahuannya pun sempit dan semakin tak cerdas. Semakin ‘tidak cerdas’ seseorang, makin malas pula dia untuk membeli dan membaca buku. Demikian seterusnya dan demikian pula sebaliknya. Hal-109  (waaaah.... sepertinya selama ini saya sudah menjadi bagian dari yang ‘tidak cerdas’. Gawatt!! Saya harus berubah menjadi lebih cerdas!)

Subhanalloh, Abdurrahman bin auf seolah ingin menyampaikan kepada kaum muslim bahwa orang yang sudah terbiasa kaya akan susah jadi miskin. Beliau telah mengetahui seluk beluk tata cara perdagangan, mulai dari sikap mental pedagang, siapa supplier, potensi pasar, differensiasi, networking, dan semua teknik dagang yang lain, sehingga dalam waktu singkat dia telah menjadi orang paling kaya di Madinah. From zero to hero. Hal-90

Nb: itulah beberapa cuplikan yang saya suka. moga anda juga suka ^_^
       maaf yaaa.... cuma segitu... coz aku juga belum kelar bacanya... baru nyampe halaman 90 dibaca dari         
       belakang..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar